Bedah Film MONSTER (Kaibutsu)
Monster merupakan film karya Hirokazu Kore-eda pertama yang saya tonton. Kebetulan saya bukan tipikal anak yang menyukai film yang cinema banget ya jadi wajar ini kesan pertama saya mengeluarkan unek-unek setelah menonton film bertema drama, psikologikal thriller yang agak merembet ke queer-an. Film ini juga populer karena merupakan film yang masuk Cannes Film Festival dan salah satu film yang disukai Barack Obama. Well, setelah nonton ini ternyata saya juga sependapat dengan beliau.
Sinopsis film ini sendiri menceritakan tentang seorang ibu tunggal (Saori Mugino) yang protektif terhadap anak laki-laki nya (Mugino Minato) ketika ia menyadari anak nya tersebut berperilaku aneh dan begitu tertutup dengannya. Ia pun menanyakan itu ke anaknya dan mendapatkan jawaban bahwa anaknya diperlakukan tidak semestinya di sekolahnya, akhirnya si ibu pun mencari tau sendiri dengan mendatangi sekolah anaknya tersebut.
Film ini menggunakan beberapa sudut pandang yang berpengaruh pula terhadap alur maju mundur yang digunakan di film ini. Kesulitannya ketika tiba-tiba beralih dari scene yang masa kini ke scene yang masa lalu membuat kita akhirnya berpikir ekstra untuk menyimpulkan 'oh ini POV si A'. Tapi justru dengan itu perspektif kita dipermainkan. Ketika saya berpikir di awal film yang jahat itu adalah si guru tapi ternyata saya salah ketika scene beralih ke POV si guru tersebut yang membuat saya berpikir si anak kah yang monster? ternyata juga tidak. Well, disitulah banyak pesan yang dapat diambil dari film ini. Susunan narasi yang rapi tidak salah membuat film ini menjadi film favorit Barack Obama. Scoring film ini juga entah kenapa membuat saya amaze dengan suasana setiap karakter yang penuh dengan kehampaan, depresi, dan loneliness. Suara-suara pemadam kebakaran yang menjadi pendamping memberikan koneksi dengan apa yang terjadi sebelumnya. Juga scene Minato dan kepala sekolah yang bermain saksofon dengan suara khas seperti itu menambah elemen ketegangan ketika bersamaan dengan Pak Hori yang frustasi dan hampir bunuh diri. Judul yang cukup mengecoh saya yang suka suudzon terhadap orang membuat saya mengernyitkan dahi dan kemudian bergumam "oooh" ketika saya tahu kenapa si karakter A melakukan itu.
Banyak sekali yang dapat diambil dari film berdurasi hampir dua jam ini. Pertama saya rasakan ketika saya salah menilai karakter per karakter hanya dengan satu sudut pandang, karena manusia tidak sesederhana itu. Hal itu pula digambarkan dalam film ini ketika society hanya melihat dari satu sisi dan kemudian menghakimi. Ketika Pak Hori begitu disudutkan hingga masuk berita nasional tentang guru yang melakukan kekerasan membuat dia dikucilkan, dihakimi oleh orang sekitar yang padahal kenyatannya tidak seperti itu. Ketika teman-teman sekolah Yori selalu melakukan bullying kepada Yori karena berperilaku aneh. Ketika ada unsur LGBT yang secara tersirat disisipkan menurut saya itu sebuah pelajaran, dimana Yori yang memiliki ketertarikan terhadap laki-laki karena kurangnya figur ibu di sampingnya dengan ayahnya yang sering mabuk dan tidak memperlakukannya sebagai manusia membuat dia memiliki orientasi seksual yang menyimpang. Begitupun Minato yang dibesarkan hanya oleh ibu nya dan ayahnya pun meninggal ketika pergi bersama dengan perempuan lain membuat dia menjadi pribadi yang tertutup dan hanya bisa mendapatkan kenyamanan ketika dia bersama Yori. Saya pernah mendengar ada yang mengatakan bahwa ilmu parenting itu memang tidak keluar bersamaan dengan bayi itu lahir. Ya, dan dapat kita lihat di film ini. Banyak sekali cuap cuap untuk membedah pesan dari film ini, tapi biar kalian nonton sendiri dan simpulkan sendiri. Mungkin juga membantu kalian merubah cara kalian menilai orang lain.
Film ini diakhiri dengan ending yang cukup membuat saya agak campur aduk antara sedih, ironis, atau bahagia karena mereka terlahir kembali?. Akting dari para pemain di film ini apalagi akting dua anak kecilnya sangat membawa saya masuk ke suasana dalam film ini. Overall, saya suka dengan film ini ketika mengangkat kritik sosial, meskipun agak rumit ya memahami nya (karena manusia tidak sesederhana itu) dan film ini sangat on point dalam menyampaikan pesannya. So, siapa monster yang dimaksud di film ini ?. Sekian cuap cuap random saya tentang film ini. Terimakasih.
Komentar
Posting Komentar